Jumat, 28 Desember 2007

i cant get started

How's that romantic learning curve? Ready for a piece of love knowledge that can make a big part of the puzzle suddenly, startlingly clears? (If so,) I’ll give the universe a sign!

Pinpointing exactly what needs fixing is right up (my) alley now. The stars give (me) extra acute instincts and brilliant ideas to boot. (i) might actually be able to repair these matters all on (my) own.

If (i) act on that certain love-related impulse, (i) could end up feeling a little foolish (though really, i shouldn't). If (i) don't, (i') will always wonder what would've happened if (i) had.

Selasa, 25 Desember 2007

16:43 - 1.mei

Eh bentar-bentar...
Pagi-pagi banget aku udah keingetan imel kamu yang terakhir, yang cerita Ivan sakit itu. Aku gak tau deh dia itu nganggep kamu apa. Tapi kayaknya dia juga agak 'ketergantungan' sama kamu. Sebatas mana, aku gak tau. Tapi kayaknya hidupnya jadi loyo gitu kalo kamu enggak ada. Kayaknya kalian udah deket banget deh. Sampe kayaknya Ivan percaya banget sama kamu, ngerasa nyaman dengan kamu. Sementara kamu rasa karena dia bontot, jadi manja. Gak tau deh. Aku cuma pikir gini aja. Ivan gak tau keadaan hati kamu kayak apa sekarang ini. Aku rasa kamu juga enggak cerita sama siapa-siapa, terutama sama Ivan. Dan keliatannya dia perlu kamu. Terus kalo sekarang kamu tiba-tiba menjauh dari dia... Dia minta ditemenin tidur di studio kamu menolak, alasannya badan enggak enak karena kurang tidur. Mungkin Ivan akan enggak percaya kamu ngomong gitu. Mungkin dia akan kecewa karena kamu mengambil keputusan begitu. Dan sekarang sepertinya kamu menyesal dengan keputusan kamu karena kemudian kamu tau dia pulang juga dini hari walaupun lagi sakit... Dan kamu berusaha untuk mengembalikan kepercayaan dia sama kamu. Kamu akan buat apa aja untuk nolongin dia. Mm...gak tau. Gak tau. Tapi karena aku cuma bisa mengandai-andai aja, ya hasilnya jadi gak akurat. Jadi akhirnya aku putuskan untuk enggak mikir-mikir hal-hal kayak gitu. Capek hati. Ya udah.
Love. --.

cerita hari ini dan itu..,: Sat, 21 May 2005 19:21:47 +0800

cerita hari ini dan itu..,: Sat, 21 May 2005 19:21:47 +0800

Sat, 21 May 2005 19:21:47 +0800

...ini juga untuk ---- --------...

lagunya Tuck Andress dan Patty Cathcart - Tuck and Patty.
yang ini aslinya dinyanyiin
Beatles.

In my Life

There are places I remember
all my life, though some have changed
some forever, not for better
some are gone and some remain
all these places have their meaning
with lovers and friends i still can recall
some are dead and some are living
In my Life I loved them all

But of all these friends and lovers
there is no one compares with you
and these memories lose their meaning
when i think of love as something new
though i know i never lose affection
for people and things that went before
i know i'll often stop and think about them
In my Life I love you more

Sat, 21 May 2005 08:12:25 +0800

Fields Of Gold
You'll remember me when the west wind moves
Upon the fields of barley
You'll forget the sun in his jealous sky
As we walk in the fields of gold

So she took her love
For to gaze awhile
Upon the fields of barley
In his arms she fell as her hair came down
Among the fields of gold

Will you stay with me, will you be my love
Among the fields of barley
We'll forget the sun in his jealous sky
As we lie in the fields of gold

See the west wind move like a lover so
Upon the fields of barley
Feel her body rise when you kiss her mouth
Among the fields of gold
I never made promises lightly
And there have been some that I've broken
But I swear in the days still left
We'll walk in the fields of gold
We'll walk in the fields of gold

Many years have passed since those summer days
Among the fields of barley
See the children run as the sun goes down
Among the fields of gold
You'll remember me when the west wind moves
Upon the fields of barley
You can tell the sun in his jealous sky
When we walked in the fields of gold
When we walked in the fields of gold
When we walked in the fields of gold
:cintaku ...i never made promises lightly 'adek

Sun, 29 May 2005 02:20:38 -0700 (PDT)

Adek

saya nemu ini dari blogs orang. curi curi. tapi waktu baca tadi inget sama email adek yang 'thanks for your time' itu lho -
ini thanks for you, adek. love, --.
17:19 - 29.mei

Portion from the book of Purpose Driven Life by Rick Warren

The importance of things can be measured by how much time we are willing to invest in them. The more time you give to something, the more you reveal its importance and value to you....

Time is your most precious gift because you only have a set amount of it. You can make more money, but you can't make more time. When you give someone your time, you are giving them a portion of your life that you'll never get back. Your time is your life. That is why the greatest gift you can give someone is your time.....

The essence of LOVE is not what we think or do or provide for others, but how much we give of ourselves.....

The most desired gift of love is not diamonds or roses or chocolate. It is focused attention. LOVE concentrates so intently on another that you forget your self at that moment....

You can give without loving, but you cannot love without giving. "God so loved the world that he gave..." LOVE means giving up; yielding my preferences, comfort, goals, security, money, energy, or time for the benefit of someone else.

Wed, 01 Jun 2005 00:21:40 +0800

Lelaki Puisi dan Perempuan Menanti
Cerpen Kunthi Hastorini

Sebaris puisi mendarat di pinggir jendela tua. Lirih suaranya menyapa perempuan yang tengah pulas dalam pembaringannya. Diusapnya pipi perempuan itu dengan mesra.
”Selamat pagi cintaku,” demikian ia bersuara.
Perlahan mata perempuan yang terpejam itu terbuka. Sebinar cahaya melesat dari kedua bilik matanya yang bening. Demi melihat kehadiran puisi, ia tersenyum.
”Selamat pagi,” sahutnya manja.
Perlahan disibaknya selimut tebal yang menutup tubuh rampingnya. Direntangkan kedua tangannya ke udara sambil mendesah pelan, ”Kau tahu aku begitu merindumu. Tadi malam aku bermimpi tentangmu.”
Dan sebaris demi sebaris kata menyatu menjadi sebait puisi. Mengangkasa ia ke udara berputar-putar selaksa tiba-tiba berubah menjadi sosok manusia. Dengan matanya yang lembut menyerpih rindu ke bilik jiwa perempuan. Demikian ia kerap hadir, sebagaimana perempuan menyebutnya: lelaki puisi.
”Kau tahu aku rindu padamu,” lirih suara perempuan. Lelaki puisi menatap perempuan, lalu seusap jemarinya menyentuh wajah perempuan.
”Aku pun merindumu,” bisiknya lembut, ”Tapi bukankah aku selalu hadir bagimu, perempuanku. Meski melalui puisi cukuplah basuh dahagamu.”
Perempuan tertunduk pilu, ”Puisi-puisi telah berterbangan mengusap letihku. Tapi, tak-kah Kau tahu semakin kurengkuh ia semakin dahaga jiwaku.”
”Kau adalah puisiku, perempuanku. Tak henti mengalir menganak-sungai muara rinduku,” sahut lelaki.
”Tak kau merindu aku,” rintih perempuan dengan nyala mata menahan resah.
”Aku merindukan dirimu. Jika tak, untuk apa aku hadir di sini tuk sapa dirimu,”
”Ahhh…rindu sebatas puisi bagimu,” desah perempuan meratap menatap angkasa yang biru. Perlahan bulir bening mengalir dari kelopak matanya.
Sekerjap mata lelaki tak mengerti mencoba meraih wajah perempuan berlinang airmata. Namun, perempuan menepis.
”Pergilah!” desahnya di sela rimis gerimis tiba-tiba meluncur dari angkasa, ”Aku harus segera memulai aktivitasku,” usirnya.
Lelaki puisi membisu. Segurat luka terbaca dari matanya. Namun, perempuan tak peduli. Dilipatnya selimut tanpa menoleh ke arah lelaki.
Demikian udara tiba-tiba berputar-putar. Bercerai-berai sosok lelaki, menyerpih menjadi huruf-huruf yang bersedih, mengucap, ”Aku akan kembali padamu.” Lalu menghilang dalam hitungan detik waktu.Dan perempuan tertunduk pilu.

****
Hari begitu terik, perempuan melangkah telusuri trotoar. Seperti hari-hari lalu, ia harus segera tuntaskan agenda-agendanya. Jika tak ingin Pak Agus, bosnya, menegur dan mengejeknya sebagai pemalas. Bukan sekali-dua kali lelaki itu menyemprotnya dengan kata-kata yang tajam, tapi hampir setiapkali. Dan, perempuan mulai bosan dengan sikap bosnya itu. Di mata bosnya seolah-olah tak satu pun tugas yang dikerjakannya dengan benar.
Memasuki kantor full ac perempuan mencoba menebar senyum, sembunyikan capai batinnya. Segamit tangan menyapanya dari belakang. Kiranya May, sahabatnya tersenyum padanya.
”Sas, Pak Agus sudah datang. Ia mencarimu,” ujarnya.
Sudah datang? Sepagi ini? Saskia terbelalak, padahal satu laporan belum lagi selesai dikerjakannya. Terbayang di benaknya wajah dingin Pak Agus menatapnya sinis dengan mulut penuh cacian.
”Sudahlah! Tak usah tegang, Sas!” May coba menghiburnya, ”Tak separah bayanganmu.”
Saskia menghela napas pelan. ”Aku pergi, May,” ujarnya.
Krek. Pintu ruang Pak Agus terkuak perlahan.
”Permisi, Pak,” ujar Saskia dekat pintu, ”Bapak mencari saya?”
Lelaki berperawakan kurus itu mengangguk tanpa menoleh sedikit pun ke arah Saskia. Saskia mendekat seraya duduk di hadapannya.
”Bagaimana dengan laporan kemarin, Sas?” tanyanya.
”Sudah saya kerjakan, Pak” sahut Saskia sambil mengangsurkan lembar-lembar pekerjaannya ke dekat Pak Agus.
Lembar-lembar itu kini ada di tangan lelaki itu. Matanya tajam meneliti satu-satu lembarnya. Kepalanya yang botak menganguk-angguk, ”Bagus juga!” pujinya.
”Tapi...,” ujarnya, ”Ada yang kurang kan Sas?”
Saskia mengangguk pelan, ”Ya Pak, laporan pemasaran yang kemarin baru separuh saya selesaikan. Rencananya saya selesaikan siang ini. ”
”Lambat sekali Kau Sas!” tandas lelaki itu tajam.
Setajam belati matanya menusuk ulu hati Saskia. Saskia tak bersuara. Hanya, hatinya berontak, sungguh tak berperikemanusiaan! Begitu banyak laporan harus diselesaikan dalam satu waktu. Aku bukannya mesin tapi manusia biasa!.
”Sudahlah! Aku beri waktu sampai siang ini,” tak seperti biasa lelaki itu mengakhiri cemoohannya begitu cepat.
Setelah mengucapkan salam, Saskia segera meninggalkan ruang yang terasa kian pengap baginya itu. Wajah gelisah May menyambutnya di luar.

****
Senja demikian jingga, perempuan menatap cakrawala nun di sana. Seperti ingin diadukannya segala peristiwa yang mendera hatinya sehari itu. Tapi, hanya bisu memburu, sebab cakrawala pun tak berkata-kata.
Helaian rambutnya menari-nari dipermainkan udara. Dingin tiba-tiba menelusup di antara lapisan epidermis kulitnya. Seperti sajak yang tiba-tiba merajuk bersama udara, bergumul ia dalam sebentuk puisi.
”Aku datang, Sayang,” bisiknya pelan sepelan desirnya meniup telinga Saskia, ”Kenapa kau tampak begitu sedih?”
Saskia meronta, seperti coba ditepisnya bayang dari jasad yang lama dinantinya. Namun, tak ketika tiba-tiba ia merengkuh bahu Saskia dengan telapak lembutnya.
”Usah bersedih, sedang hari begitu indah untuk kau nikmati,” bisiknya.
”Aku letih, Kau tahu?” demikian rintih perempuan, ”Seharian ini atasanku yang sinis itu mencemoohku. Seolah aku benda mati yang tak punya hati, ”
” Bersabarlah, sayang!”
”Aku sudah cukup bersabar!” protesnya, ”Tapi apa yang kudapat. Aku ingin pindah kerja saja!”
Seusap jemari menyentuh helai rambut perempuan, ”Tak-kah kau pikir dulu baik-buruknya?”
Perempuan mengeluh. Seiris pilu kembali menikam batinnya.
”Harusnya kau hadir di sini menemani aku, ” keluhnya.
Jemari itu berhenti mengusap. Sebisu cakrawala, ia membeku.
”Tak-kah kau tahu. Aku bosan dengan imajimu. Aku tak butuh imaji itu, aku butuh kamu sebagai dirimu sendiri, aku letih.”
Lelaki puisi memandang perempuan dalam-dalam. Perempuan yang selalu menjadi inspirasi baginya, terus mengalir seperti air. Seperti napas yang diirup dan diembuskannya, seperti itu pula ia selalu mencintai perempuannya itu.
”Mengapa tak kau nikmati saja kehadiranku ini?” bisik lembut lelaki merajuk, ”Bukankah Kau mencintai aku sebagai adanya aku,”
” Ya, tapi...”
”Sudahlah. Usah kau menuntut jasadku untuk merengkuh jasadmu. Biar saja jiwa kita yang bertemu berpadu seperti ini,” bisiknya lagi, ”Akan lebih indah bagi kita. Jasad hanya akan membuat gesekan-gesekan meniada sebentuk ideal.”
”Aku tak butuh sebuah keidealan semu! Aku butuh kamu!” lengking suara perempuan, ”Aku telah bosan menantimu.”
”Hidup hanya sebuah kesemuan, sayang.”
Sebisu cakrawala bibir perempuan terkatup. Segores luka kembali menganga. Tak lebih dari sekadar inspirasi aku bagimu, lelakiku. Demikian jerit batin perempuan berloncatan. Bulir-bulir bening tiba-tiba menghening. Sekuyup harap basah meresah punah. Punah digilas gelisah.
”Pergilah!” tiba-tiba mulut beku perempuan kembali bersuara. Matanya tak siratkan bahagia. Hatinya seakan meratap ke arah cakrawala yang masih tetap jingga.
Lelaki menggeleng, ”Tak kan kutinggalkan kau.”
”Pergilah!” ulang perempuan, ”Tak-kah jelas bagimu ucapku!”
”Aku mencintamu.”
”Cukuplah itu menipuku,” sahut perempuan, ”Pergilah!”
”Beri aku kata itu sekali lagi, sayang!”
Perempuan menggeleng. Hening semakin menikam teduh matanya. Tak sampai tangan lelaki yang mencoba meraihnya.
Seketika itu huruf-huruf berhamburan ke udara. Huruf–huruf yang menangis seperti gerimis yang tiba-tiba meluncur dari angkasa. Teduh mata perempuan memandang rimisnya. Huruf-huruf yang tertiup membawa pergi Lelaki Puisi, menghilang. Seperti gersang yang ditinggalkannya dalam ruang. Perempuan berdiri seketika merentang tangan menyapa udara. Seakan ucapkan salam perpisahan bagi sebuah penantian yang panjang.

****
Di tempat yang jauh, di waktu yang sama. Lelaki dengan jasadnya tengah terpekur di hadapan kotak komputernya yang bisu. Tiba-tiba jemarinya berhenti menari di atas tuts keyboard-nya. Sesepi senja yang menyelinap pergi dengan kerudung jingganya. Tak perempuan hadir dalam kata. Tak mengalir seperti biasa. Beku! Bisu! Mencumbu pilu. Mungkin, rindu pun telah membatu. Menatap monitor kosong.

Malang, 2002

Rabu, 28 November 2007

Wed, 11 May 2005 10:11:09 +0800

Sepagi...

-----
...padahal hari ini paginya lagi bagus, lagi biru, dan berangin. aku bayangin seperti naek
ke atas bukit tinggi, duduk sendirian di dataran rumput-rumput dan ilalang. sepertinya, this as been another perfect morning. semuanya keliatan sempurna kecuali satu, aku. aku sedang
terkena lagi ini yang aku panggil 'funny feelings syndrome'.
sindrom perasaan aku yang bercampur-campur. aku gak tau satu-persatunya karena semuanya
kerasa sekaligus, sekarang ini, pada waktu yang sama sekarang. perasaan aneh yang beberapa
kali aku sudah rasakan.

... cuma ada satu aja bintangnya yang paling terang, aku pikir southern star.... tapi mungkin sebenarnya itu bintang utara. but last night, we might have been looking and wishing to the same bright star..

... aku baca di dua tempat. berkali-kali aku baca berulang-ulang. aku mencari maksud, tapi gak berhasil. tadi malem itu aku gak menemukan apa-apa...

----------

...aku sepertinya gak akan sanggup ceritakan dengan baik apa yang mau aku ceritakan ini...

----------

aku akan selalu berpikiran positif, terutama untuk hal-hal yang aku harapkan terjadi...

aku tau kamu selalu merasa melankoli, mengharapkan yang terbaik tapi seringkali suka menikmati kesedihan dan menerima ketidakbahagiaan ketika yang terbaik itu tidak didapat. karakter kamu terbentuk dari situ, akhirnya kamu pasrah. tapi akhirnya kamu kuat, karena kamu terbiasa. seringkali berpikir yang, 'ah akhirnya aku kok yang bakalan ditinggal', padahal adek gak tau siapa yang bakal ninggalin siapa...
aku? nah apa ujungnya kalo kayak gini terus?

aku selama ini tidak pernah terpikir kamu tinggalkan ... membayangkan pun enggak berani. tapi adek, tidak ada orang di dunia ini yang bisa membaca hati kamu, .... .... .... pakyanto, dia cuma bisa mengira-ngira dari perubahan wajah kamu.

untuk mereka, kamu ini masih sendirian lajang, yang hatinya masih belum terisi. jadi wajar aja mereka jodoh-jodohin kamu dengan orang lain. atau mereka telpon kamu malem-malem, ngobrol yang gak bermutu. atau pergi ke tempat mama untuk pendekatan.... akhirnya aku pikir, kamu mesti terbuka, dan memberi kesempatan untuk orang berbuat begitu untuk kamu... aku tau kamu enggak akan terus mengiyakan, tapi aku yakin kamu akan mulai berpikir. mereka pun mempunyai harapan, punya cita-cita dengan kamu. mereka ingin membahagiakan kamu dengan cara yang mereka pikir paling betul. dan kamu tau seharusnya kamu bisa membahagiakan mereka juga, dan tidak menyusahkan dirisendiri seperti sekarang. aku yakin kamu pernah berpikir seperti itu, biar sedikit.

...ketika kamu pikir bahwa cita-cita itu ingin kamu simpan saja, untuk memenuh-menuhi hati kamu - mungkin kamu harus pikir lagi. kamu sendiri tau, cinta itu bukan cuma gagasan...
aku. aku tidak akan lama-lama untuk selalu berpikir tentang gagasan, ide, muluk-muluk...
karena aku tau aku mesti melangkah kemana supaya aku gak perlu menggagas melulu. pada waktunya nanti, satu persatu adek akan tau.

----

...andaikan aku bisa putar balik waktu kebelakang...

.. bahagia dan susah pada waktu yang sama. pada waktunya, sekarang atau nanti, jika kamu ingin melepaskan diri dari ketidakpastian ini ...

Senin, 26 November 2007

Mood Leader

date : Wed, 20 Apr 2005 05:58:15 -0700 (PDT)

Subject : Re: Mood Leader

dek sayang... iya abisnya kemaren itu kamu udah tanda-tanda gak baik gitu... kok merengud terus. dan saya ko diomelin aja eh ternyata emang mau kedatengan... tapi ya gakapapa saya ini kan harus sedia setiap masa (emang antimo...) mau diomelin boleh, disayangin boleh, dicintai juga boleh, didiemin juga bisa.... pokoknya serba boleh lah... dan saya pasti dengan senang hati selalu akan nerima... hug aja... ntar juga kamu diem...

iya nanti saya bangunin lagi... cuman kok adek gak bilang ini jam setengah empat mana... kalo jam sini, apa gak kepagian gitu bangunnya... jam jokja kali ya...

kamu gak cerita sih. terus gimana tadi lunch nya? orang barusan ditanyain kok gak mau jawab malah ngomongin yang lain... o gak boleh cerita ya. o iya deh. iya iya... he-eh... iya lah. biar deh biar saya gak tau aja... he-eh...

iya dek. tempat kerja saya yang sekarang ini juga enak. saya mo ninggalin kantor ini bukan karena gak suka sama suasananya tapi karena si orang edan itu aja. satu orang. suasananya paling asik beneran... kantor lain gak bisa kayak gini... semua orang di dalem sini bisa click gitu aja... pokoknya enteng banget... jadi enak... tapi dalam situasi saya ini, emang saya harus bergerak, jadi ya ditinggal aja... mungkin kamu ada pertimbangan lain jadi gak harus bikin apa yang saya lakukan sekarang... diliat dulu baik baik. jangan terburu-buru...

kalo alasan gak mau pindah adalah karena 'aku gak tau apa-apa'... menurut saya salah dek. mungkin gak salah banget tapi itu gak bisa dijadiin alasan. bener temen kamu bilang, waktu kita mulai sesuatu dulu kita gak tau kemana arahnya. kita bakalan mampu gak atau kesandung gak. tapi kalo komitmennya jelas, yang gak tau juga bisa dibikin.... common sense aja kok. emang gak semua orang dikasi talent kayak gitu. tapi saya tau adek bisa kalo adek mau...

gak usah dikasi contoh lagi deh. adek bisa liat diri sendiri aja... darisitu adek pasti udah bisa menilai... ya kan. coba deh... apapun rencana adek, adek bisa berhasil. insyaallah.

on the same bright star

Date: Wed, 20 Apr 2005 19:04:31 -0700 (PDT)


Subject: On the same bright star


.... Somewhere out there,
Beneath the pale moonlight,
Someone's thinking of me,
And loving me tonight....


.... And even though I know how very far apart we are,
It helps to think we might be wishing
On the same bright star....

.... Somewhere out there,
If love can see us through,
Then, we'll be together,
Somewhere out there, out where dreams, come true.....
This is the secret of the numbers 10.14.67.05
.....klik aja linknya....